Semarang, 31 Mei 2016

   Menristekdikti melakukan Peresmian Pusat Inovasi Teknologi di Widya Puraya Universitas Diponegoro, Tembalang, Semarang, Selasa (31/5). Pada hari itu juga Menristekdikti melihat dan mengunjungi hasil penelitian tangan bionik yang telah dikembangkan oleh tim peneliti dari Center for Bimechanics, Biomaterial, Biomechatronics, and Biosignal processing (CBIOM3S). Mereka adalah dua mahasiswa dari Departemen Teknik Mesin Undip yaitu Khusnul Ari Mustakim dan Jonny Andreas Pakpahan.

    Jonny mengembangkan tangan bionik Astohand V1.0 dan Khusnul mengembangkan AstoHand V2.0 yang diarahkan oleh dua dosen Teknik Mesin Mochammad Ariyanto, dan Rifky Ismail. Tangan bionik AstoHand V1.0 mempunyai berat yang lebih ringan dibandingkan dengan generasi selanjutnya, AstoHand V2.0. AstoHand V1.0 menggunakan aktuator DC motor, sedangkan AstoHand V2.0 menggunakan linear aktuator untuk menggerakkan kelima jari tangan bionik. Kedua tangan bionik tersebut mempunyai beberapa pola tangan menggenggam dan kelima jarinya dapat bergerak secara independen. Pemakai dapat menggerakkan tangan bionik tersebut dengan cara memasang sensor electromyography (EMG) pada otot tangan yang masih tersisa.

Gambar 1. Tangan Bionik AstoHand V1.0 (Biru), dan AstoHand V2.0 (Putih), Sumber: http://jateng.tribunnews.com.

  Menristekdikti mengunjungi tangan bionik AstoHand V2.0 yang dipakai oleh seorang pemuda dari kabupaten Batang yang telah kehilangan tangan kirinya karena kecelakaan kerja. Menristekdikti Prof. Muhammad Nasir, PhD memberikan apresiasi kepada tim peneliti yang telah mengembangkan tangan bionik yang dapat langsung dipakai dan dimanfaatkan kepada orang yang membutuhkan. Menristekdikti merasa senang dengan hasil penelitian tersebut dan mengajak bersalaman pemakai tangan bionik pertama buatan dalam negeri tersebut, Ahmad Anisul Fuad.

Gambar 2. Menristekdikti bersalaman dengen pemuda pemakai tangan bionik undip ditemani oleh Rektor Universitas Diponegoro.

   Setelah bersalaman dan berfoto bersama, menristekdikti mengatakan perlunya hilirisasi riset-riset yang telah dihasilkan dari Perguruan Tinggi di Indonesia. Senada dengan hal tersebut, ketua CBIOM3S Undip Dr. Rifky Ismail mengatakan hasil riset tangan bionik ini akan diajukan hak paten dan akan direncanakan produksi masal sehingga produk tangan bionik tersebut dapat berguna bagi para penyandang difabel di Indonesia. Tangan bionik yang telah dihasilkanterebut mempunyai berat yang cukup ringan yaitu dibawah 400 gram dan mempunyai berbagai macam mode gerak membuka dan menutup jari. Tangan bionik ini diharapkan menjaid solusi dari mahalnya tangan bionik yang telah diproduksi oleh negara maju.