KABAR LUMAJANG – Wisuda merupakan salah satu momentum pengukuhan kelulusan bagi mahasiswa setelah menjalani perkuliahan di suatu universitas.

Mengingat kondisi pandemi covid-19 seperti sekarang ini, hampir seluruh universitas di Indonesia menunda proses wisuda, ataupun ada juga yang dilakukan secara online.

Dalam hal ini Universitas Diponegoro (Undip) Semarang melakukan inovasi dengan membuat robot untuk mengupayakan agar wisuda tetap dapat dilaksanakan sesuai dengan protokol kesehatan.

Akhirnya Undip menggelar wisuda ke-159 dilengkapi dengan tiga robot yang didesain mewakili profil wisudawan dan tampil memeriahkan acara tersebut.

Lantas siapakah sosok inspiratif yang merancang robot tersebut?

Ialah Dr Rifky Ismail S.T., M.T. selaku Kepala CBIOM3S Undip.

Beberapa karya yang pernah dirancang di antaranya adalah robot untuk pasien infeksius, tangan bionik yang membantu pemakaianya bisa bekerja secara maksimal, dan robot untuk membantu therapy pijat pasien penderita penyakit tertentu.

Melansir dari Humas Undip yang dipublikasikan pada 30 Juli 2020, Rifky menyebut ide awal robot wisudawan berasal dari rektor dan wakil rektor.

“Cuma agak mendadak. Waktunya tak sampai satu bulan, sementara ekspektasinya bagaimana robot bisa menjadi media interaktif. Biar ada semacam komunikasi dua arah dengan para wisudawan,” ujar pengajar Fakultas Teknik Mesin Undip ini.

Pria lulusan program sarjana Undip dan meraih gelar doktor dari Twente University Belanda ini berupaya keras agar interaksi seperti bersalaman, bisa terlihat alami.

“Ini tantangan berat, tapi alhamdulillah kami bisa mewujudkannya,” ungkapnya.

Ia juga mengucapkan terimakasih kepada rektor dan para wakil rektor yang telah memberinya kepercayaan.

Khususnya kepada Plt Wakil Rektor 3 Bidang Komunikasi dan Bisnis Dwi Cahyo Utomo S.E., M.A., Ph.D. yang secara intensif mendampingi dan memantau pekembangan tiap tahapan hingga dalam proses ujicoba.

 

Rifky mengakui robot wisudawan dalam kancah teknik sebenarnya model yang sederhana, namun karena waktu pembuatan yang terbatas menjadikan hal ini tantangan tersendiri.

Biaya pembuatan tiga robot ini sekitar Rp 40 hingga 50 juta.

Dengan anggaran tersebut, Rifky berupaya semaksimal mungkin untuk mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik dan efisien sehingga dapat menciptakan robot yang diinginkan.***

Editor: Hari Setiawan