CBIOM3S Universitas Diponegoro Semarang dan RSAL dr. Ramelan Surabaya berkerja sama untuk mengembangkan tangan bionik yang diberi nama Albiondi ‘Angkatan Laut Bionik Undip’. Kini penelitian tersebut sudah berjalan dan menuju kepada suatu produk. Albiondi yang dihasilkan dari penelitian bersama ini nantinya akan dipakai dan diujicobakan kepada Serka Siswadi. Setelah jadi, dilakukan serah terima Albiondi dari CBIOM3S Undip yang diwakili oleh Dr. Rifky Ismail, S.T.,M.T. kepada RSAL dr. Ramelan yang diwakili oleh Laksamana Pertama TNI dr I.D.G. Nalendra D.I. SpB SpBTKV (K).

Bahan tangan bionik Albiondi terdiri atas dua jenis. Yakni, stainless steel dan polylactic acyd (PLA) yang berwarna hitam. Pencetakannya menggunakan printer 3D. Harga tangan bionik buatan Indonesia tersebut tentu jauh lebih murah. ’’Kalau dirupiahkan, ya sekitar Rp 100 juta,’’ ujar Karumkital dr Ramelan Laksamana Pertama TNI dr I.D.G. Nalendra D.I. SpB SpBTKV (K). Dia berharap Albondi bisa membantu rakyat Indonesia. Rencananya, tangan bionik tersebut segera dipatenkan dan diproduksi secara masal. Sebab, kasus kecacatan pada alat gerak, terutama tangan, cukup banyak.

Mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan yang kemarin turut hadir dalam acara tersebut sangat mengapresiasi hasil kerja keras para anak bangsa itu. Menurut dia, generasi muda harus memiliki semangat tinggi untuk mencapai keinginan. ’’Kalau belum tercapai, jangan berhenti,’’ tutur Dahlan. Dia pun mengingatkan tim CBIOM3S Undip bahwa mereka sekarang tidak lagi berada di lingkungan akademisi, melainkan di dunia nyata yang berbeda. Dunia yang kejam. Jadi, apa pun yang tengah mereka kerjakan sudah tidak bisa lagi mundur. ’’Kegagalan itu wajar. Kalau tidak ada proses gagal, tidak akan ada keberhasilan,’’ imbuhnya.

Sementara itu, Siswadi tampak masih sedikit kaku saat menggunakan tangan bionik kirinya. Jari-jemari tangan bionik tersebut belum bisa bergerak lincah seperti tangan bionik kanannya. Maklum, Siswadi baru pertama mencoba tangan tersebut kemarin pagi. Botol air mineral pun sempat lepas dari genggamannya saat dia mencoba minum dengan tangan bionik kirinya.

Siswadi pun merasa senang dan terbantu atas adanya tangan bionik. Namun, dia justru berharap tangan bionik karya CBIOM3S Undip segera diproduksi masal. Dengan demikian, orang-orang seperti dirinya yang tangannya tidak lagi sempurna bisa segera terbantu. Siswadi kehilangan dua tangannya saat menjadi instruktur Pusat Latihan Tempur (Puslatpur) Marinir Angkatan Laut di Purboyo, Malang Selatan, September 2014. Dari 90 siswanya yang melempar granat busung, ada tiga yang tidak meledak. Saat Siswadi melakukan penyisiran dan berusaha menandainya dengan ranting, granat itu meledak. Dua tangan Siswadi hancur dan harus diamputasi. Untung, dia terlindung baju antigranat dan helm sehingga bagian lain tidak terkena serpihan granat. Kemudian, Maret 2015, Siswadi mendapat tangan bionik pertamanya.

 

Serka Siswadi Sedang mendemokan tangan bionik Albiondi

Temuan Albiondi ini jauh lebih murah dibanding dengan buatan luar negeri untuk yang kategori high-end product. Ini sangat bermanfaat bagi pasien yang tangannya sudah tidak ada lagi, contohnya pasien kecelakaan kendaraan bermotor. Alat tersebut bisa digunakan berlatih sampai pasien bisa menggerakkan tangannya sendiri atau bahkan digunakan sehari-hari.

Sedangkan video liputan tangan bionik Albiondi ciptaan CBIOM3S Undip dan RSAL dr. Ramelan Surabaya dapat dilihat pada video di bawah ini